Diza’s Invite

Hukum Makan Sambil Bersandar

Ilustrasi sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga

Makan adalah kegiatan memasukan makanan atau sesuatu ke dalam mulut untuk menyediakan nutrisi bagi manusia, binatang dan makhluk hidup lainnya dan juga energi untuk bergerak serta pertumbuhan, yaitu dengan memakan organisme. Berdasarkan jenis pola, Makhluk karnivora memakan daging, makhluk herbivora memakan tumbuhan, sedangkan omnivora memakan keduanya.

Makan sendiri memiliki banyak cara, dan kita sebagai seorang muslim memiliki tata cara makan yang disunnahkan dan ada pula yang dilarang. Salah satu cara makan yang dilarang adalah makan sambil bersandar. Cara makan seperti ini termasuk cara makan orang yang lahap sehingga tidak disukai atau dinilai makruh.

Abu Juhaifah mengatakan bahwa dia berada didekat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berkata kepada seseorang yang berada didekat beliau,


لا أكُل وَأَنَا مُتَّكِئ
"Aku tidak makan dalam keadaan bersandar." (HR. Bukhari no. 5399)

Makna Muttakian

Ibnu Atsir Rahimahullah berkata, "Yang dimaksud muttakian adalah condong ketika duduk bersandar pada salah satu sisi". (Tawdhihul Ahkam 5:439)

Disebutkan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bahri (9:451), Para Ulama berselisih mengenai makna ittika. Ada yang mengatakan, "bersandar ketika makan dalam bentuk apapun." Ada yang menjelaskan, "yang dimaksud adalah condong pada salah satu sisi." Ada pula yang menjelaskan dengan bersandar dengan tangan kiri yang diletakkan di lantai.

Dari perkataan Imam Malik yang disimpulkan oleh Ibnu Hajar terdapat isyarat bahwa beliau memaksudkan duduk ittika untuk segala macam bentuk bersandar, tidak khusus pada cara duduk tertentu.

Lantas apa hukum makan sambil bersandar?

Ibnu Qashsh menyatakan bahwa hal ini hanya dimakruhkan untuk Nabi. Namun Al Baihaqi menyatakan, yang lainya (orang lain) pun dimakruhkan. Karna cara makan seperti ini berasal dari para raja non Arab. Akan tetapi jika ada seseorang yang tidak memungkinkan makan selain dengan bersandar (adanya udzur syar'i), maka tidak mengapa. (Fathul Bahri, 9:451)

Salah satu alasan dilarangnya makan sambil bersandar adalah karna dikhawatirkan perut menjadi bertambah buncit. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari jalan Ibrahim An-nakho'i. Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-fath (9:452).

Ibnu Hajar mengatakan, "Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri." (Fathul Bahri, 9:452)

Referensi: https://rumaysho.com/2480-dimakruhkan-makan-sambil-bersandar.html

Diposting: 18/08/20

Kabar Al-Quran Yang Paling Menakutkan

Ilustrasi sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga

Pada suatu malam yang sangat gelap ketika Khalifah Umar bin Khattab sedang dalam suatu perjalanan, beliau bertemu dengan sekelompok kafilah. Abdullah bin Mas'ud berada dalam Kafilah tersebut. Khalifah Umar memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada kafilah tersebut, "Dari kaum manakah kalian?"  Abdullah menjawab "Min fajjin 'amiq" (dari lembah yang dalam). "Kemana kalian akan pergi?" Abdullah menjawab "Ke Baitul 'Atiq" (Baitullah).


Umar berkata "Diantara mereka pasti ada orang yang sangat alim". Kemudian diperintahkan pula untuk bertanya "Ayat Al-quran manakah yang paling agung?, Ayat Al-quran manakah yang paling kuat hukumnya?, Ayat Al-quran manakah yang paling mencakup?".

Semua pertanyaan dijawab dengan sangat baik oleh Abdullah. Hingga mereka ditanya "Kabar ayat Al-quran manakah yang paling menakutkan?", Abdullah menjawab "Pahala dari Allah bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong. Dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain Allah" (An-nisa 4:123).

Mendengar jawaban-jawaban yang begitu tepat, Umar bin Khattab berkata kepada ajudanya "Tanyakan kepada mereka! Adakah Abdullah bin Mas'ud diantara mereka?" Mereka menjawab "Ya, ada".

Pahala bukan sekedar angan-angan


Abdullah bin Mas'ud menilai ayat ini memberikan kabar yang menakutkan. Dan pendapat itu disetujui oleh Umar bin Khattab. Pada kalimat "Pahala dari Allah bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong", Mereka khawatir jika sebagian atau bahkan seluruh amal mereka tidak diterima oleh Allah Ta'ala. Padahal mereka adalah generasi terbaik umat islam. Semestinya kita lebih layak untuk takut dan khawatir. Namun begitulah, semakin banyak ilmu dan amal yang dimiliki seseorang, maka akan semakin takut kepada Allah.

"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya" (QS Al-kahfi 104)
Ibnu Qayyim Al-jauziyah menafsirkan maksud orang merugi dalam ayat ini adalah orang-orang yang beramal yang tidak diperuntukkan kepada Allah atau tidak mengikuti sunnah Rasulullah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Iman Bukhari;

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد. رواه البخاري

"Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah dariku  maka tertolak". (HR.Bukhari)

Rasulullah bersabda bahwa orang yang melakukan suatu amalan yang dimana amalan tersebut tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah atau bahkan dia membuat amalan sendiri maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut.

Orang yang bangkrut di Akhirat


Selain orang yang beribadah dengan tidak ikhlas ataupun tidak mengikuti sunnah Rasulullah, ada lagi orang yang tertipu oleh angan-angannya. Orang yang telah melakukan kebaikan namun pahalanya harus dibagi-bagi lantaran kezaliman yang ia lakukan, hingga pahala kebaikannya habis dan bahkan masih harus menanggung dosa orang yang dizalimi tersebut. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?"
Para sahabat menjawab "Orang yang bangkrut di tengah-tengah kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta".
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda "Orang yang bangkrut di kalangan ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, Akan tetapi dia telah mencela ini (seseorang), menuduh orang (berzina),  memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. Lalu kebaikannya diberikan kepada si ini, kebaikan lain diberikan kepada si itu. Apabila  kebaikannya telah habis sebelum terbayar semua tanggungannya, maka dosa-dosa mereka (yang dizalimi) diambil lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam Neraka." (HR. Muslim)

Setiap amal buruk akan dibalas


Hal kedua dalam ayat tersebut yang membuat takut para sahabat adalah kalimat "Barangsiapa mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu".

Padahal para sahabat adalah orang yang sedikit melakukan dosa, akan tetapi mereka takut jika dosa yang pernah mereka lakukan menyebabkan jatuhnya hukuman yang menimpa mereka. Lalu bagaimana dengan kita yang selalu melakukan dosa di setiap harinya?

Telah dikabarkan bahwa Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam "Wahai Rasulullah, bagaimana akan ada keberuntungan setelah ayat ini, jika setiap apa (dosa) yang kami lakukan akan dibalas?" Rasulullah bersabda, "Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar, Bukankah kamu pernah sakit? Bukankah kamu pernah kelelahan? Bukankah kamu pernah bersedih? Bukankah kamu pernah ditimpa cobaan?" Abu Bakar menjawab "Ya" Kemudian Rasulullah bersabda "Maka itu semua adalah balasan bagi kalian." (HR. Muslim)

Dalam hadits tersebut ada ancaman yang menakutkan, namun ada juga kegembiraan yang melegakan, dimana setiap kesulitan dan cobaan yang dialami oleh seorang Muslim adalah kafarah (penebus) bagi dosa.

(Wallahu A'lam)
Diposting: 17/08/20

Kisah Khalifah Umar bin Khattab dan Taubat Seorang Lelaki Tua

Taubat
muslimah.or.id

Kisah Khalifah Umar dan Taubat Lelaki Tua - Suatu malam, Umar keluar dari rumahnya bersama Abdullah bin Mas'ud. Tiba-tiba Beliau melihat cahaya api. Beliau mendekat ke arah api tersebut hingga memasuki suatu kampung. Ternyata, cahaya itu bersumber dari sebuah rumah. Beliau mendatangi tempat itu dan mendapati ada seorang lelaki tua yang sedang meminum khamer dan di sebelahnya terdapat wanita penyanyi. Ia tidak sadar sampai Umar menghardiknya seraya berkata "Aku tidak melihat malam hari ini pemandangan yang lebih buruk dari seorang lelaki tua yang sedang menunggu saat kematiannya".

Lelaki tua itu mengangkat kepalanya dan berkata "Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya apa yang kau lakukan terhadapku lebih buruk lagi, Karna engkau melakukan tajassus (menyelidiki/memata-matai kesalahan orang lain), Padahal tajassus itu dilarang. Dan engkau juga masuk ke dalam rumahku tanpa izin". Umar berkata "Benar apa yang kau katakan".

Kemudian Umar keluar sambil menangis dan mengusap air matanya dengan bajunya, lalu bergumam "Wahai Umar, celakalah dirimu, jika Rabbmu tidak memberi ampunan kepadamu".

Lelaki tua itu tidak hadir di majlis Umar untuk sementara waktu. Sampai pada suatu hari, ketika Umar duduk di antara kawan-kawannya, Beliau melihat lelaki tua itu menyembunyikan dirinya di ujung majlis.

Umar berkata "Panggillah kemari lelaki tua itu". Lelaki tua itu mendatangi Umar dengan rasa takut karna mengira ia akan dihukum atas kesalahannya itu. Lelaki itu dipersilakan mendekat di sisi Umar, kemudian Umar membisiki telinganya "Demi yang mengutus Muhammad dengan benar, Aku tidak memberitahu kepada siapapun tentang perbuatanmu yang Aku lihat, meskipun kepada Ibnu Mas'ud yang datang bersamaku pada waktu itu".

Lelaki tua itu pun membisiki Umar "Wahai Amirul Mu'minin, demi yang mengutus Muhammad dengan benar, sejak kedatanganmu kepadaku waktu itu, Aku tidak mengulangi lagi kesalahanku".

Maka Umar mengucapkan kalimat Takbir dengan keras sehingga membuat orang-orang yang berada di majlis itu terkejut, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang menyebabkan Umar bertakbir.

(Kanzul Ummal, 3/692-693)

Diposting: 03/08/20